THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 07 Desember 2010

Israel Sebut Kesepakatan Rusia - Syiria "Rusak Keseimbangan"



TEL AVIV (Berita SuaraMedia) – Israel berang dan mengecam keras keputusan Rusia merampungkan kesepakatan pengiriman peluru kendali P-800 Yakhont ke Syiria, hal itu dianggap Israel sebagai sebuah tindakan yang "merusak keseimbangan" di kawasan Timur Tengah.
Para pejabat Israel mengatakan, Moskow sudah bertindak kelewat jauh, mereka menambahkan bahwa kesepakatan tersebut tidak akan meningkatkan hubungan antara kedua kubu. Memasok senjata canggih untuk Syiria, khususnya pada masa-masa seperti sekarang ini, bukanlah sebuah langkah yang akan mendorong orang-orang moderat di Timur Tengah, kata para pejabat Israel.
Israel sudah memperkirakan Rusia akan melanjutkan kesepakatan, meski Perdana Menteri Vladimir Putin pernah berjanji menarik diri dari kesepakatan, demikian dilansir situs berita Ynet.
Israel ingin Rusia memberikan kejelasan terhadap kekhawatirannya bahwa Syiria mungkin saja menggunakan roket yang dimaksud untuk mempersenjatai Hizbullah di Libanon, sebuah langkah yang disebut Israel akan mengancam kapal-kapal perang Israel di Mediterania, khususnya di pantai Libanon.
Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdyukov mengatakan Rusia tidak percaya bahwa kesepakatan tersebut akan menimbulkan risiko mempersenjatai "teroris" di kawasan tersebut.
Kelanjutan kesepakatan penjualan peluru kendali Yakhont tersebut diumumkan pekan lalu oleh Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdyukov, yang mengatakan kepada kantor berita RIA bahwa kesepakatan tersebut tertuang dalam kontrak tahun 2007 lalu dan mendapat protes dari AS, sekutu Israel.
"(Penjualan) ini semakin memperumit keadaan. Hal ini tidak memberikan kontribusi terhadap stabilitas dan tidak menciptakan perdamaian di kawasan (TimurTengah). Kami akan menyampaikan pendapat kami kepada Rusia," demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman, Senin, seperti dikutip harian Israel, Hayom.
Meski melakukan upaya damai dengan Syiria, Israel tetap merasa tidak percaya. Damaskus mendukung gerilyawan Hizbullah di negara tetangga, Libanon, dan beberapa kali menyampaikan ancaman bahwa perang bisa menjadi pilihan untuk mengambil alih Dataran Tinggi Golan yang dijajah Israel.
April lalu, Perdana Menteri Qatar Sheikh Hamad bin Jassem al-Thani menyatakan bahwa tudingan Israel terkait pengiriman peluru kendali Scud dari Syiria kepada gerakan Hizbullah di Libanon tidak memiliki bukti yang jelas. Ia menuding Tel Aviv berdusta dan sengaja mencari dalih.
Sheikh Hamad mengatakan itu setelah berdialog dengan Perdana Menteri Libanon Saad Hariri pada awal kunjungannya ke negara tersebut. "Ancaman Israel bukanlah hal yang aneh, dan penting untuk diingat bahwa serangan militer Israel sebelumnya tidak berhasil."
Ia menambahkan: "Tudingan yang dilontarkan Israel tidak berdasar. Tidak ada bukti nyata mengenai tuduhan pengiriman peluru kendali Scud atau lainnya."
Perdana Menteri Qatar tersebut menambahkan, "Kawasan Timur Tengah membutuhkan kestabilan, dan Libanon saat ini sudah stabil dan berdiri di atas kaki sendiri. Ancaman terhadap Libanon dan Syiria tidak bisa kami, bangsa Arab, terima, dan kami akan melakukan semampu kami untuk menghalangi kebodohan Israel."
Qatar dan Libanon merampungkan sejumlah kesepakatan bilateral yang berfokus pada keamanan, investasi, tenaga kerja, pendidikan dan berbagai bidang lainnya saat Sheikh Hamad memulai kunjungannya di Libanon selama dua hari.
Pada hari Jumat pekan lalu, seperti dikutip RIA, Serdyukov mengatakan Amerika Serikat khawatir peluru kendali Yakhont akan jatuh ke tangan "teroris", namun hal itu dibantah Serdyukov.
Lieberman mengatakan, Menhan Israel Ehud Barak, yang berkunjung ke Moskow bulan ini untuk menandatangani kesepakatan kerja sama militer, telah "menyampaikan isu (Yakhont), tapi keadaan tidak berjalan dengan baik."
Rusia, yang mendirikan armada pesawat tanpa awak buatan Israel, sebelumnya membuat Israel senang saat berjanji tidak mengirimkan peluru kendali antipesawat S-300 ke Iran saat sanksi baru PBB untuk Iran terkait program nuklir dijatuhkan.

0 komentar: