Muslim akan selalu mengimani :
"Aku rela Allah sebagai Rabb
Muhammad Sebagai Nabi,
dan Islam sebagai agamaku"
dan konsekwensinya adalah bahwa Anda harus bersikap ridha kepada Allah, yang berarti ridha dengan semua hukumNya, ridha dengan QadhaNya, ridha dengan qadarNya yang buruk maupun baik, pahit atau manis sekalipun.
Ridha adalah gerbang pintu beragama. Siapa pun yang bertaqarrub kepada RabbNya, yang senang dengan petunjukNya, yang tunduk pada perintahNya, dan yang berserah diri pada hukumNya, pasti telah melewati pintu gerbang tersebut.
Contoh manusia terbaik adalah Rasulullah ketika menjalankan sebuah sikap agung nan tinggi kepada Rabb Nya yakni Ridha kepada Allah.
Beliau ridha kepada RabbNya awal-awal penyebaran risalahnya, saat-saat ketika beliau berdiri di pihak Allah, sementara di sisi dunia lain memeranginya dengan semua kekuatan dan kesombongan kaum kafir. Tetapi beliau tetap ridha. Beliau juga ridha pada masa-masa tertekan, ketika paman dan istri beliau, Khadijah wafat. Orang-orang kafir Quraisy mengintimidasi beliau dengan perlakuan fisik kasar, tuduhan sebagai pembohong, bahkan harga diri beliau diinjak-injak dan tidak dipercaya lagi. Ada yang menjulukinya pembohong, tukang sihir, dukun, orang tidak waras, sampai "penyair".
Beliau ketika diusir dari negeri Mekkah, beliau ridha.
Beliau juga ridha ketika Allah Memerintahkan untuk berdakwah ke Thaif dan disambut dengan keji, lemparan batu hingga kedua kaki berdarah. Beliau tetap ridha kepada ketentuan Allah.
Ketika beliau turun di medan perang Uhud, kepalanya dilempari hingga berdarah, gigi seri patah, paman terbunuh, sahabat-sahabat dibantai, dan tentara beliau dikalahkan, tetapi beliau malah mengajak semua sahabat-sahabatnya, "Berbarislah dibelakangku aku akan mengajak kalian memuji RabbKu"
Pendek kata, beliau ridha dimanapun, dalam keadaan bagaimanapun, dan kapanpun kepada semua Qadha dan Qadar Allah Ta'ala.
Dan lihat sikap ridha ini menurun kepada sahabat-sahabat beliau.
Dalam riwayat Tirimidzi disebutkan,"Umar bin Al-Khaththab minta izin kepada Rasulullah untuk melakukan umrah. Rasulullah pun berpesan," Jangan lupakan saya dalam doamu wahai sadaraku"
Yang mengucapkan ini adalah Rasulullah, si pembawa petunjuk,yang maksum terjaga dari dosa, yang tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Sungguh ucapan ini sangat bernilai tinggi dan tak ternilai harganya. Kelak Umar akan mengatakan," Sebuah ucapan yang dengannya saya tidak lagi menginginkan dunia se-isinya".
Jika anda berada dalam posisi Umar, coba rasakan ketika Rasulullah mengatakan itu kepada anda,"Jangan lupakan saya dalam doamu wahai sadaraku".
Pantaslah bila kita mengikuti sikap Ridha Rasulullah kepada Allah, sikap ridha para sahabat kepada Allah dan RasulNya, karena Allah sudah menjanjikan balasan terbaik bagi orang beriman yang mau mengambil sikap Ridha kepada Allah atas semua ketentuan baik maupun buruk atas dirinya.
Balasan keridhaannya adalah :
"Dan kelak RabbMu pasti memberikan karuniaNya kepadamu, lalu hati kamu menjadi puas" (QS. Adh-Dhuha ayat 5)
~~~~~~~~~~
Salam Ukhuwah
HAS






0 komentar:
Posting Komentar