THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 07 Desember 2010

Iran: Serangan AS Berdampak "Perang Tanpa Batas"



TEHERAN (Berita SuaraMedia) – Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad membantah bahwa negaranya telah melanggar aturan internasional mengenai senjata nuklir, ia memperingatkan bahwa jika ada yang mengatakan akan menyerang fasilitas nuklir negaranya, maka hal itu akan memantik perang "tanpa batas".
Menurut pemberitaan The Telegraph, saat ditanya mengenai bagaimana reaksi Iran terhadap serangan dalam bentuk apa pun yang dilakuan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran dengan dukungan AS, Ahmadinejad mengatakan, "Amerika Serikat tidak pernah memasuki perang sesungguhnya, tidak di Vietnam, tidak pula di Afghanistan, bahkan tidak juga Perang Dunia II."
"Perang tidak hanya mengebom tempat tertentu. Saat perang sudah dimulai, maka tidak akan ada batasannya. Anda kira akan ada yang menyerang Iran? Saya rasa tidak. Rezim Zionis adalah titik yang amat kecil di peta, begitu kecilnya hingga tidak masuk dalam hitungan," kata Ahmadinejad.
Sebelumnya, Dewan Keamanan PBB menjatuhkan empat rangkaian sanksi terhadap Iran terkait program nuklir negara tersebut. AS dan sekutu-sekutunya menyerukan hukuman yang keras, dan hubungan antara Washington dan Teheran menjadi amat buruk.
Negara-negara Barat menuding Iran mencoba mengembangkan politik internasional atas semakin bertambahnya ketegangan terkait program nuklir dan juga menolak tuduhan yang menyebut rezimnya melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Ahmadinejad justru menyalahkan AS yang bersikap munafik, mengutip kasus Teresa Lewis yang akan dieksekusi di Virginia pada hari Kamis karena merencanakan pembunuhan suaminya pada tahun 2002.
Ahmadinejad kemudian mengkritik AS karena mengecam Iran atas penjatuhan hukuman rajam kepada Sakineh Mohammadi Ashtiani saat AS sendiri bersiap membunuh Teresa Lewis.
"Teresa Lewis akan dieksekusi, sementara dokternya yakin bahwa ia tengah menderita gangguan mental pada saat terjadi pembunuhan suaminya, tapi sama sekali tidak ada yang memerhatikan hal ini," kata Ahmadinejad dalam wawancara yang berlangsung di New York.
Ahmadinejad membandingkan sedikitnya protes yang muncul dalam kasus Lewis (41), seorang nenek asal Virginia, dengan ributnya media Barat mempermasalahkan vonis Sakineh Mohammadi Ashtiani, wanita Iran yang dijatuhi hukuman mati karena berzina.
"Ada 3,7 juta halaman internet yang mengangkat mengenai wanita ini. Padahal, kasusnya masih belum final, namun Iran sudah diserang hebat," kata Ahmadinejad di hadapan umat Muslim New York.
"Media Barat adalah agen propaganda yang terus berkoar mengenai demokrasi dan hak asasi manusia meski slogan-slogan mereka sesungguhnya hanya kebohongan belaka," tambahnya.
Mahkamah Agung AS menolak membatalkan eksekusi Lewis dan memastikan wanita tersebut menjalani hukuman suntik mati esok, hanya beberapa jam berselang setelah Ahmadinejad dijadwalkan berpidato di Majelis Umum PBB.
Lewis akan menjadi wanita pertama yang dieksekusi mati di Virginia dalam kurun waktu 98 tahun, dan ia merupakan wanita pertama yang dieksekusi mati di AS sejak lima tahun terakhir.
Lewis dinyatakan bersalah telah menyewa dua orang pria untuk menghabisi suami dan putra tirinya delapan tahun yang lalu. Pembunuhan itu dilakukan agar ia bisa mendapatkan uang asuransi jiwa sebesar $250.000.
Pengacaranya mengatakan bahwa Lewis hanya punya IQ 72, hanya dua poin lebih tinggi dari definisi hukum orang cacat mental, dan ia dimanfaatkan oleh dua orang pembunuh itu untuk membagi uangnya.
Terdapat kesamaan antara kasus Lewis dengan Ashtiani (43), seorang Azeri tak terpelajar yang suaminya dibunuh oleh sepupunya.
Keduanya dituding melakukan perzinahan dengan pembunuh suami mereka. Dalam kedua kasus tersebut, para pria yang melakukan pembunuhan menerima hukuman lebih ringan dibandingkan wanitanya.

0 komentar: