THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 02 Desember 2010

FITNA Lebih Kejam Dari Pembunuhan


Judul utama postingan ini sebenarnya tidak benar-benar berhubungan dengan apa yang akan saya bahas. Tidak juga saya menghimbau orang-orang untuk membunuh Wilders, meskipun yang ia lakukan lebih kejam dari pembunuhan itu sendiri. Namun sudah sangat jelas bahwa yang diserang Wilders adalah Islam secara umum (bukan satu-dua orang pemeluknya). Walau ada yang bilang, sebenarnya yang diserang Wilders adalah imigran-imigran asal Timur Tengah yang semakin membludak di negaranya, buat saya itu alasan tidak masuk akal. Memangnya dia nggak punya tivi di rumahnya? Nggak pernah baca koran? Nggak pernah buka internet? Atau pikirannya terlalu cetek, sampai tidak mampu membedakan antara imigran Timur Tengah dan Islam sebagai agama? Cupu bener tuh orang.
Lagi-lagi, jelas bahwa yang ia serang adalah Islam sebagai agama. Entah apakah dia itu Islam-phobia, Xenophobia, atau apapun, dia memang layak menuai kemarahan jutaan muslim di seluruh dunia. Lagi, kalau kita melihat sejarah, dia bukanlah satu-satunya orang yang berusaha menghujat Islam. Sudah tidak terhitung jumlahnya sejak berabad-abad lalu, sampai ke tragedi 11 September yang dicurigai sebagai konspirasi itu. Fenomena yang menarik, justru setelah tragedi itu, terjadi dua arus yang saling bertolak belakang. Satu sisi masyarakat dunia merasa phobia dan menghujat Islam, di sisi lain masyarakat penasaran dan ingin mengetahui ajaran Islam lebih dalam. Tidak aneh bila kemudian kita saksikan peningkatan jumlah muallaf (orang yang baru memeluk Islam) di negara-negara Eropa –bahkan di saat pemerintah negara itu masih antipati terhadap Islam. Well, mungkin itu kabar bagus buat kaum muslimin, tapi mimpi buruk buat orang-orang seperti Wilders. Ia berusaha untuk menghentikan hal itu dan membuat arus lanjutan dari Islamophobia dengan cara yang kotor sekaligus klasik dan klise: karya ’seni’ (perhatikan, kata ‘seni’ saya apit dalam tanda kutip). Menyusul kasus karikatur Nabi Muhammad SAW yang sempat menggemparkan dulu, kini muncul Fitna –sebuah pemilihan judul yang konyol karena menjelaskan terang-terangan maksud pembuatannya. Lalu, apa respon yang seharusnya ditunjukkan oleh kaum muslimin terhadap utusan Setan ini?
Wilders Minta Dibunuh
Ramainya kecaman mengenai film Fitna yang dibuat Wilders, rupanya tak segera membuat film ini dicabut dari internet. Padahal, para pemimpin dari berbagai negara (termasuk PBB) sudah mengecam, kaum muslimin sudah mengancam, para hacker menyerbu LiveLeak.com, dan pemerintah berencana memblokir You Tube. Lalu, apa sih yang ada di kepala Si Dungu Wilders ini? Ya, ia hanya mengulangi apa yang pernah dilakukan Theo Van Gogh, dan dia mungkin akan berakhir sama dengan pendahulunya itu. Dia pasti sudah tahu, dengan tindakan dungunya itu, negara-negara Islam ramai-ramai akan memasang vonis hukuman mati di atas kepalanya, tapi ia tetap mempublikasikan filmnya itu.
“Bunuhlah saya,” mungkin itu sebenarnya maksud hati Wilders.
Meski demikian, tampaknya respon yang ia terima tak sehebat yang ia bayangkan. Mungkin ia hanya dianggap sampah oleh kaum Muslimin yang menjadi targetnya. Permintaan bunuhnya (secara tidak langsung), adalah sebuah pertanyaan besar bagi kita. Akankah kita menuruti permintaannya itu? Kalau kita menurutinya, lalu apa untungnya bagi kita, dan apa untungnya bagi dia? Tidak mungkin dia tidak menyiapkan rencana apa-apa sementara ia nekat memancing kemarahan jutaan umat manusia di dunia.
Menurut saya, apabila sekarang seorang assassin membunuh Si Dungu Wilders, maka yang akan terjadi adalah kerugian bagi seluruh umat Islam. Si Wilders (yang walaupun menjadi almarhum) akan tetap mendapat keuntungan untuk memojokkan Islam, lalu ia akan mendapat simpati dunia (seperti Theo Van Gogh, seniornya), sehingga keadaan pun berbalik: dunia yang semula bersimpati pada Islam, malah akan menerima opini Wilders (mendiskreditkan Islam) yang seolah-olah telah dibuktikannya sendiri. Itulah tujuan Wilders, ia ingin menjatuhkan Islam dengan membahayakan keselamatannya sendiri: mencari simpati masyarakat dunia. Persis kaki tangan Setan.
Jadi, menurut saya, apa yang harus kita lakukan adalah dengan membuat rencana Wilders tersebut tidak jadi kenyataan. Tidak perlu melakukan serangan kekerasan terhadapnya ataupun negaranya. Jangan sampai ada ekstrimis Islam yang melakukan teror atas nama pembalasan terhadap fitna. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. Kita buktikan bahwa film Fitna, memang fitnah : isapan jempol belaka untuk orang-orang yang terbelakang seperti Geert Wilders.
Film Tandingan?
Dengar kabar, katanya MUI dan NU bersiap membuat film tandingan untuk melawan film Fitna. Film apa ya? Ayat-Ayat Cinta? Ya jelas bukan lah.... Entah film seperti apa yang ingin mereka buat, saya rasa ini ide yang cukup kreatif. Mata dibayar mata, darah dibalas darah, film dibalas film. Bukan begitu?
Tapi satu hal penting: Apalah artinya serangan balasan kalau lebih lemah dari serangan sebelumnya? Maksud saya, film tandingan itu harus benar-benar dikerjakan dengan serius dan hati-hati. Tidak bisa hanya mengandalkan emosi dan amarah massa. Harus CERDAS. Bukankah film Wilders yang bodoh hanya bisa dikalahkan dengan film yang cerdas? Kalau sampai mereka membuat film yang sama bodohnya dengan Wilders atau bahkan lebih buruk, mereka akan mempermalukan nama umat Islam Indonesia. Menurut saya, ini taruhan yang cukup beresiko. Jangan sampai mereka membuat film anarkis yang malah membuat mereka tak ada bedanya dengan Wilders.

0 komentar: