THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 12 November 2010

kedatangan islam di indonesia


A.      KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA
B
anyak teori yang menjelaskan mengenai kedatangan islam di imdonesia baik dari sisi waktu, pembawa,tempat dan cara atau metode yang di pergunakan. Ada teori yang mengatakan bahwa islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7 M/ abad ke- 1 H, dan langsung dari arab atau Persia. Namun ada pula yang mengatakan bahwa islam masuk ke Indonesia baru terjadi pada abad ke – 11 M/5 H. Bahkan ada yang berpendapat islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13 M dan berasal dari Gujarat atau india. Teori – teori tersebut memiliki landasan dan argumentasi masing – masing, sehingga antara satu teori dengan teori lainnya sebenarnya tidak bertentangan melainkan menjadi pelengkap dari teori yang ada
Selain data tersebut, azyumardi menemukan adanya indicator lain berupa kata bersila. Kata ini menunjukan bahwa tradisi itu bukan berasal dari tradisi keratin, tetapi berasal dari arab atau Persia yang egaliter. Pendapat kedua mengatakan bahwa islam masuk ke Indonesia terjadi sekitar abad ke- 11 M/5 H. Data ini di dasari atas temuan arkeologis berupa batu nisan. Bukti arkeologis tersebut banyak di temukan di daerah jalur perdagangan internasional serta jalur persimpangan. Batu nisan tertua yang di temukan di Indonesia berupa batu nisan kuburan Fatimah binti ma’imun bin hibatullah yang wafat pada tanggal 7 rajab 475 H/ desember 1082 M. Bentuk nisan dan tulisannya sama dengan batu nisan milik ahmad bin abu Ibrahim bin arradh rahdar alias abu kamil.
Berdasarkan data arkeologis ini, maka dapat di perkirakan bahwa di pesisir utara jawa timur, khususnya di leran, gresik telah terdapat sekolompok telah terdapat sekelompok komunitas muslim yang berasal dari Timur Tengah. Dengan kata lain, Islam masuk ke Indonesia berasal dari timur Tengah yang dibawa oleh para saudagar dan muballigh Arab atau Persia muslim.
Sementara itu, terdapat teori lain yang mengatakan bhawa Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13 M dan berasal dari Gujarat, India. Teori  ini didasari atas data – data arkeologis berupa batu nisan pada makam raja malikus saleh yang di temukan di kerajaan islam samudera pasai. Batu nisan ini bertulisakan angka tahun 686 H / 1297 M . berdasarkan hasil penelitian arkeologis, batu nisan ini berasal dari Gujarat, india dan batu ini sering di gunakan oleh pemeluk hindu Gujarat untuk membangun kuil – kuil mereka
Teori ini di perkuat oleh pendapat Christian snouck hougrounye. Snouck mengatakan bahwa agama islam datang ke Indonesia pada abad ke 13 M dan berasal dari Gujarat, india,. Teori ini didasari atas analisanya mengenai adanya unsur – unsure local berupa animism dan dinamisme yang terdapat pada ajaran islam pada masa itu. Meskipun teori ini tidak begitu kuat, banyaj ahli atau sejarawan Indonesia yang berpedoman pada teori ini. Hal itu didasari oleh kenyataan sejarah bahwa masih banyak sejarawan Indonesia yang mampu mengungkapkan data – data penting yang di ambil dari manuskrip yang banyak terdapat di Indonesia.
Berdasarkan teori – teori tersebut, dapat di pahami bahwa islam datang ke indonseia melalui beberapa periode. Periode pertama (abad ke – 7 hingga abad ke – 12 M ) merupakan awal kedatangan dan pembentukan komunitas muslim, terutama para pedangan muslim. Sementara periode kedua ( abad ke – 13 hingga abad ke – 16 M ) merupakan kelanjutan dari penyebarab islam awal, karena itupula pada periode ini penyebaran agama islam telah meluas, bahkan sudah membentuk social politik yang mengambil bentuk kerajaan – kerajaan islam, seperti kerajaan islam peurlak dengan raja muslim pertama.













B.      PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA
S
eperti di tegaskan pada bagian terdahulu bahwa agama islam masuk  ke Indonesia terjadi secara periodik, tidak sekaligus. Pada uraian ini akan di jelaskan mengenai penyebaran islam dan media yang di pergunakan oleh para pedagang dan para mubalig dalam penyebaran islam di Indonesia.  Paling tidak, terdapat beberapa cara yang di pergunakan dalam penyebaran islam di Indonesia, seperti perdagangan, perkawinan, pendidikan, kesenian dan tasawuf. Berikut uraian singkat mengenai hal tersebut.

1.       Perdagangan
Pada tahap awal saluran yang di pergunakan dalam proses isalamisasi di Indonesia adalah perdagangan. Hal itu dapat di ketahui melalui adanya kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke 7 M hingga abad ke 16 M. Aktivitas perdagangan ini banyak melibatkan bangsa – bangsa di dunia, termasuk bangsa arab, Persia, india, cina dan sebagainya. Mereka turut ambil bagian dalam perdagangan di negeri – negeri barat, Tenggara, dan timur benua asia.

Saluran islamisasi melalui jalur perdagangan ini sangat menguntungkan, karena para raja dan bangsawan turut serta dalam aktivitas perdagang tersebut. Fakta sejarah ini dapat di ketahui berdasarkan data dan informasi penting yang di catat Tome pires bahwa para pedagang muslim banyak yang bermukim di pesisir pulau jawa yang ketika itu penduduknya masih kafir. Dalam perkembangan selanjutnya, anak keturunan mereka menjadi penduduk muslim yang kaya raya.

Pada beberapa tempat, para penguasa jawa, yang menjabat sebagai bupati – bupati majapahit yang di tempatkan di pesisir pulau jawa banyak yang masuk islam. Hubungan ekonomi perdagan ini sangat menguntungkan secara material bagi mereka, yang pada akhirnya memperkuat posisi dan kedudukan social mereka di masyarakat jawa.

Hubungan perdagangan ini di manfaatkan oleh para pedagang muslim sebagai sarana atau media dakwah. Sebab, dalam islam setiap muslim memilik kewajiban untuk menyebarkan ajaran islam kepada siapa saja dengan tanpa paksaan. Oleh karena itu dengan interaksi yang kuat maka banyak orang yang menjadi pemeluk islam. Karena pada saat itu jalur- jalur strategis perdagangan internasional hampir sebagian besar di kuasai oleh para pedagang muslim.  Oleh karena itu apabila Indonesia ingin terlibat jauh dengan perdagangan internasional maka mereka harus berperan aktif dalam perdagangan internasional dan harus sering berinteraksi dengan para pedagang muslim.

2.       Perkawinan

Dari aspek ekonomi, para pedangan muslim memiliki status social ekonomi yang lebih baik dari pada penduduk peribumi hal ini sebagai daya tarik  wanita untuk di jadikan istri dari saudagar muslim.  Hanya saja ada ketentuan bahwa apabila ingin di nikahkan harus di islamkan terlkebih dahulu. Setelah itu mereka menjadi komunitas di lingkungannya sendiri. Keislaman mereka menempatkan diri dan keluarganya berada pada status social dan ekonomi yang cukup tinggi.

Dalam perkembangan berikutnya, ada pula para wanita muslim yang di kawini oleh keturunan bangsawan local. Dengan demikian, mereka menjadi keluarga muslim dengan status social  ekonomi dan posisi politik penting di masyarakat. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan lagi apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja atau anak adipati. Karena, raja atau adipati atau bangsawan itu memiliki posisi penting di dalam masyarakat- nya. Sehingga mempercepat proses islamisasi. Di antara salah satu contoh yang dapat di kemukakan di sini adalah perkawinan antara raden rahmat atau sunan ampel dangan nyai manila, antara sunan gunung jati dengan putrid kawunganten, brawijaya dengan putrid campa, orang tua raden patah, raja kerajaan islam demak, dan lain – lain.


3.       Pendidikan

Proses islamisasi di Indonesia juga di lakukan melalui media pendidikan. Para ulama banyak yang mendirikan lembaga  pendidikan islam, berupa pesantren. Pada lembaga inilah para ulama memberikan pengajaran keilmuan Islam ( tafaqquh fiddien ) melalui berbagi pendekatan sampai kemudian para santri yang mempelajari keilmuan islam mampu menyerap pengetahuan banyak masyarakat

Lembaga pendidikan islam ini tidak membedakan status social dan kelas, siapa saja yang berkeinginan mempelajari Atau memperdalam pengetahun keagamaan islam, di perbolekan memasuki lembaga pendidikan ini. Dengan demikian pesantren – pesantren dan para ulamanya telah memainkan peran yang cukup penting di dalam proses pencerdasan kehidupan masyarakat, sehingga banyak masyarakat yang kemudian tertarik dengan islam.

Di antara lembaga pendidikan pesantren yang tumbuh pada masa awal islam di jawa adalah pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta. Pesantren Giri yang didirikan oleh sunan Giri. Popularitasnya melampaui  pulau jawa hingga ke Maluku. Bahkan sunan giri dan para ulama lainnya pernah di undang ke Maluku untuk memberikan ajaran agama Islam. Dengan cara – cara seperti itu maka agama islam terus tersebar keseluruh penjuru nusantara, hingga akhirnya banyak penduduk Indonesia menjadi muslim.

4.       Tasawuf

Media lain yang tidak juga kalah pentingnya dalam proses islamisasi di Indonesia adalah tasawuf. Salah satu sifat khas dari ajaran ini adalah akomodasi terhadap budaya local, sehingga menyebabkan masyarakat Indonesia yang tertarik menerima ajaran tersebut. Pada umumnya para pengajar tasawuf atau sufi adalah guru – guru pengembara dengan sukarela mereka menghayati kemiskinan, mereka juga sering sekali berhubungan dengan perdagangan , mereka mahir dalam magis dan mempunyai kekuatan untuk menyebuhkan. Diantara mereka ada juga yang menikahi gadis – gadis para bangsawan.

Dengan tasawuf, bentuk islam yang diajarkan kepada para penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya memeluk agama hindu, sehingga ajaran islam mudah di terima dengan mereka. Di antara para sufi yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra islam adalah Hamzah Fansuri di aceh, syekh lemah abang dan sunan panggung di jawa. Ajaran mistik seperti ini terus di anut bahkan sampai saat ini.

5.       Kesenian

Saluran islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah melalui pertunjukan wayang. Seperti di ketahui bahwa Sunan Kalijogo adalah tokoh yang paling mahir dalam mementasakan wayang. Sunan Kalijogo hanya meminta kepada para penonton untuk mengucapkan kalimat dua syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih di ambil dari cerita Ramayana dan Mahabrata, tetapi muatannya berisi ajaran islam dan nama – nama pahlawan muslim.

Selain wayang, media yang di pergunakan dalam penyebaran islam di Indonesia adalah seni bangunan, seni pahat, atau seni ukir, seni tari, seni music, dan seni sastra. Di antara bukti yang di hasilkan dari penyebaran islam awal adalah seni bangunan Masjid Agung Demak, Sendandduwur Agung Kesepuhan, Masjid agung banten, dan lain sebagainya. Seni bangunan masjid yang ada merupakan bentuk akultrasi dari kebudayaan local Indonesia yang sudah ada sebelum islam, seperti bangunan candi salah satu dari sekian banyak, contoh yang dapat kita saksikan hingga kini adalah masjid Kudus dengan menaranya yang sangat terkenal itu. Hal ini menunjukan satu kali lagi bahwa proses penyebaran islam di Indonesia yang di lakukan oleh para penyebar islam melalui cara – cara damai dengan mengakomodasi kebudayaan setempat. Cara ini sangat efektif untuk menarik perhatian masyarakat pribumi dalam memahami gerakan Islamisasi Yang di lakukan oleh para mubaligh, sehingga lambat laun mereka memeluk islam,
C.      PERKEMBANGAN POLITIK ISLAM DI INDONESIA
S
ejak kedatangan hingga perkembangannya, islam telah memainkan peran yang sangat penting dalam percaturan politik di nusantara. Namun setelah banyak bangsa barat yang datang, situasi politik menjadi berubah, hampir sebagian besar kerajaan islam berada di bawah pengaruh        kolonial, terutama belanda dan portugis.

Kedatangan belanda pada tahun 1595 M membuat situasi politik menjadi berubah. Perubahan itu terjadi karena belanda, yang semula datang hanya untuk berdagang dan membeli rempah – rempah, merubah niatnya untuk menguasai seluruh system perdagangan dengan cara memonopoli perdagangan. Terlebih setelah belanda mendirikan kongsi dagang, VOC ( Vereendigde Oast Indiche Compagnie) pada bulan maret tahun 1602 M. 
Pendirian kongsi ini mendapatkan legalitas dari pemerintah belanda di Netherland dengan di keluarkannya piagam yang di sahkan oleh Staten General Republik. Dengan piagam ini, voc mendapatakan hak, khusus untuk berdagang, berlayar dan memegang kekuasaan di kawasan antara tanjung harapan hingga kepulauan salomon, termasuk kepulauan Nusantara. Wewenang politik itu di berikan guna memperlancar usaha perdagangan bangsa belanda di wilayah- wilayah yang di sebutkan di atas.
Setelah mendapatkan izin, armada VOC melaksanakan tugasnya untuk berlayar mencari rempah – rempah dan barang dagangan lainnya. Dalam angkatan ke tiga, VOC sudah terlibat perang dengan portugis di Ambon, tetapi gagal. Pada angkatan ke empat, VOC telah berhasil melakukan hubungan perdagangan dengan banten dan ternate, tetapi gagal merebut banteng portugis di tidore.
Seperti di tegaskan sebelumnya bahwa selain memperoleh ijin berdagang, VOC juga di berikan ijin untuk melakukan kegiatan politik dalam rangka untuk mendapatkan hak monopoli dagang di Indonesia. Bahkan kongsi dagang ini  memperoleh hak – hak yang bersifat kenegaraan, seperti mempunyai wilayah kekuasaan, mengadakan perjanjian politik dan sebagainya. Dengan semua fasilitas itu, VOC melakukan ekspansi wilayah di nusantara ini.
Langkah pertama yang di lakukan VOC adalah melakukan penyeledikan tentang daerah – daerah yang strategis yang akan di kuasai. Hasilnya, VOC melihat bahwa terdapat lokasi yang strategis diantaranya malaka, johor dan banten. Pemilihan daerah ini di dasari atas lemahnya control para penguasa nusantara terhadap wilayah ini, terutama oleh kerajaan mataram.
Dalam perkembangan selanjutnya belanda mampu memasuki wilayah kekuasaan mataram. Kedatangan belanda ke wilayah mataram karena di undang oleh raja Amang kurat II (1677- 1703 M ). Permohonan itu di penuhi dengan imbalan yang cukup besar, terutama di konsensi dagang dan wilayah. Akibatnya pada tahun 1755 M, mataram terpecah menjadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Kemudian pada tahun  1757 muncul kekuasaan Mangkunegara dan pada tahun 1813 M muncul kekuasaan Pakualam.   

0 komentar: